Blog

Perkembangan Filosofi Kopi Sebagai Sebuah IP: Dari Cerpen, Film Hingga Kedai Kopi



Posted on Jun 21, 2017

Adaptasi cerita dari novel, cerpen, ataupun bentuk karya sastra lainnya ke dalam sebuah film telah menjadi hal yang cukup lumrah dilakukan oleh industri film di Indonesia. Berbagai film yang diadaptasi dari buku bahkan berhasil mendapat respons yang cukup positif baik di dalam negeri maupun di luar negeri, seperti halnya film Laskar Pelangi yang diadaptasi dari novel karangan Andrea Hirata. Dari banyaknya karya sastra yang diadaptasi menjadi film, Filosofi Kopi menjadi salah satu contoh kasus yang menarik karena cerita yang diawali dari cerpen ini mampu dikembangkan menjadi berbagai bentuk media adaptasi yang luas dengan potensi pengembangan yang sangat besar.

Filosofi Kopi merupakan sebuah cerpen karangan Dewi “Dee” Lestari yang ditulis pada tahun 1996. Cerita ini kemudian di muat dalam buku berjudul Filosofi Kopi yang memuat 18 karya sastra lain karangan Dewi Lestari yang meliputi prosa lirik, cerpen, dan cerita tidak terlalu pendek.

Cerita dalam cerpen Filosofi Kopi ini berpusat pada dua tokoh sentral bernama Ben dan Jody. Ben adalah seorang barista yang cukup handal dalam meramu kopi dan memiliki banyak pengetahuan mengenai kopi. Sedangkan Jody adalah seorang karakter yang memiliki orientasi bisnis dan tengah mencari ide bisnis apa yang akan ia buat. Bersama dengan Ben, Jody pun tertarik untuk mendirikan usaha kedai kopi yang bernama Filosofi Kopi.

Cerpen ini kemudian diangkat menjadi film layar lebar oleh Visinema Pictures. Film Filosofi Kopi the Movie pertama kali rilis di layar lebar Indonesia pada tanggal 9 April 2015 dengan arahan sutradara Angga Dwimas Sasongko. Film ini dibintangi oleh Chicco Jerikho sebagai Ben, Rio Dewanto sebagai Jody, serta Julie Estelle sebagai El.

Film inilah yang menjadi titik balik perkembangan Filosofi Kopi dari sebuah cerpen menjadi sebuah IP (Intellectual Property) yang berdiri sendiri. Adaptasi film tersebut berhasil menarik perhatian publik, hingga pada akhirnya kedai Filosofi Kopi yang ada di kisah cerpen dan film ini pun benar-benar dibuka di bilangan Melawai, Jakarta Selatan.

Dalam kedai ini pengunjung benar-benar bisa merasakan berada di dunia cerita fiksi Filosofi Kopi lengkap dengan kehadiran Kopi Tiwus sebagai salah satu menu di kafe ini. Kopi Tiwus sendiri merupakan salah satu jenis kopi yang menjadi fokus utama dalam cerita Filosofi Kopi.

Keberadaan kedai ini berhasil melepaskan salah satu elemen dari cerita karangan Dewi Lestari, berupa latar cerita kedai kopi Filosofi Kopi menjadi sebuah produk turunan dari IP Filosofi Kopi yang berdiri sendiri. Keberlangsungan Filosofi Kopi sebagai sebuah IP turut serta ditopang oleh penjualan berbagai merchandise official Filosofi Kopi seperti T-shirt, gelang, hingga biji kopi.

Berkembangnya cerpen Filosofi Kopi sebagai sebuah IP tidak hanya berhenti pada kedai dan merchandising saja. Kedua karakter utama dalam cerita ini, Ben dan Jody akhirnya menjadi karakter yang bisa berdiri sendiri, terlepas dari narasi yang ada dalam cerpen karya Dewi Lestari sebagai karakter IP yang bisa mengembangkan ceritanya sendiri. Dua karakter utama ini kini diangkat menjadi sebuah Web Series berjudul Filosofi Kopi the Series: Ben & Jody yang diproduksi oleh Visinema Pictures. Web Series yang bisa ditonton di YouTube ini menghadirkan cerita baru dari Filosofi Kopi, sebuah merupakan cerita prekuel dari cerpen karangan Dewi Lestari sebelum berdirinya kedai Filosofi Kopi.

Selain merilis web series Visinema Pictures pun merilis kelanjutan cerita Ben dan Jody dalam film sekuel berjudul Filosofi Kopi 2: Ben & Jody. Menariknya, sekuel film ini tidak lagi mengadaptasi cerita karangan Dewi Lestari (karena pada dasarnya cerita awal Filosofi Kopi adala sebuah cerpen) melainkan sebuah cerita original yang benar-benar baru.

Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di kedai Filosofi Kopi pada tanggal 5 Januari 2017, sutradara Angga Dwimas Sasongko menuturkan keterangan mengenai pengembangan karakter Ben dan Jody dalam cerita film ini. Ia mengungkapkan bahwa bahwa mereka menggulirkan karakter Ben dan Jody dari luar cerpen dan menghadirkan berbagai hal baru di film keduanya yang berbeda dari film pertama yang diadaptasi dari cerpen karangan Dewi Lestari.

Sebelum film sekuel ini diumumkan, tim kreatif Filosofi Kopi mengadakan sebuah kompetisi penulisan cerita bernama #NgeracikCerita. Cerita dalam film kedua ini mengangkat kisah yang dibuat oleh Christian Armantyo dan Frischa Aswarini pemenang dari kompetisi tersebut. Cerita ini kemudian dikembangkan menjadi skenario oleh Jenny Jusuf dan M. Irfan Ramli. Meskipun cerita ini sudah terlepas dari cerpen awalnya, namun naskah film ini tetap diberikan kepada Dewi Lestari untuk dikonsultasikan terlebih dahulu.

Berkembangnya Filosofi Kopi dari sebuah cerita pendek menjadi film, kemudian kedai yang menghasilkan merchandising, web series dan sekuel film menjadi salah satu contoh menarik dari bagaimana pengelolaan IP yang tepat bisa berpotensi mengembangkan sebuah narasi ke dalam berbagai bentuk media lain.  Dengan adanya berbagai pengembangan ini semesta cerita yang semula ditulis oleh Dewi Lestari dalam format cerpen mampu berkembang lebih luas dan bisa terus dikenal oleh khalayak meskipun asal narasi utamanya tidak lagi dilanjutkan.

Berkembangnya sebuah cerpen ke dalam berbagai media membuat khalayak menjadi lebih mudah mengenali cerita tersebut tidak hanya melalui satu bentuk media saja. Bagi orang yang hobi membaca dan memiliki minat pada sastra, bisa saja mereka mengenal Filosofi Kopi melalui cerpen aslinya. Di sisi lain, para moviegoers juga bisa mengenal kisah Filosofi Kopi melalui film. Begitu juga dengan para penggemar kopi atau mereka yang suka “nongkrong” bisa jadi mengenal Filosofi Kopi saat berkunjung ke kedai di Melawai. Berbagai macam merchandising yang ditawarkan juga bisa mengenalkan apa itu Filosofi Kopi kepada mereka yang membeli merchandise tersebut. Hadirnya web series membawa Filosofi Kopi semakin mudah dikenal oleh khalayak yang suka menonton web series di YouTube.

Berbagai macam media ini tidak lagi dipandang hanya sebagai produk turunan dari sebuah cerita asli, semua memiliki peran dan posisi yang sama karena bisa saling menjadi media promosi satu sama lain. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pengelolaan yang tepat sebuah IP bisa terus dilanjutkan terlepas dari cerita utamanya yang sudah lama diselesaikan, menuju berbagai kemungkinan pengembangan yang ada, mulai dari perkembangan narasi hingga bisnis dari IP yang dikembangkan.

Sumber: Pionicon







Popcon Asia

Popcon Asia is the premier pop culture event by Popcon Inc, dedicated to creating awareness of, and appreciation for creative and popular art forms.


Copyright 2017 © Popcon Asia