Dunia per-meme-an terancam bubar! Begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran warga net saat Tim Kuasa Hukum Setnov melaporkan 60-an meme yang beredar sebagai bentuk penghinaan dan pencemaran nama baik. Fredrich sang pengacara di gedung Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim, Jakarta Pusat mengatakan kliennya merasa terganggu oleh sebaran foto yang diedit sedemikian rupa menjadi* meme* tersebut.

Meme yang dimaksud adalah foto ketika Novanto terbaring di ranjang RS Premier Jatinegara, yang kemudian menjadi viral karena ditemukan beberapa kejanggalan. Foto ini pun bertambah viral setelah diedit dan diberi bumbu karakter-karakter populer, hingga menjadi puluhan meme.

Tidak tanggung-tanggung, Kasubdit II Siber Bareskrim Mabes Polri, Kombes Pol Asep Safrudin mengatakan, Kepolisian telah menetapkan Dyann Kemala Arrizqi sebagai tersangka penyebar foto penghinaan melalui media sosial. Dyan sudah dilaporkan oleh pihak Setnov sejak 10 Oktober dan Polisi menangkapnya di rumahnya pada 31 Oktober 2017. Polisi juga mengamankan barang bukti berupa satu tablet Samsung berwarna hitam abu-abu, satu buah sim card, dan satu buah memori card.

Atas perbuatannya Dyann disangkakan Pasal 27 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau pasal 310 dan 311 KUHP tentang pencemaran nama baik dengan hukuman maksimal empat tahun penjara.

Peristiwa ini tentunya membuat kesal para insan kreatif yang benci pada ketidak-adilan (juga yang sudah men-share meme-meme Setnov). Bayangkan, seorang Ketua Dewan Perwakilan Rakyat yang sempat mendapat gelar “tersangka” kasus dugaan korupsi pengadaan proyek E-KTP, dan hampir selalu mangkir karena alasan sakit, kali ini melakukan perlawanan.

Tagar #SaveMeme pun menjadi trending topik, sebagian menilai tindakan ini sangatlah berlebihan. Walaupun sampai detik ini pihak Setnov dikabarkan tidak akan mencabut laporan, angin segar datang dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Henri Subiakto, Staf Ahli Hukum Kementerian tersebut mengatakan, banyak tersebarnya meme editan Setya Novanto saat sakit bukanlah bentuk pencemaran nama baik, melainkan satire atau gaya bahasa untuk melakukan sindiran kepada seseorang. “Satire, jelas tak bisa dipidanakan dalam konteks komunikasi dan demokrasi,” terangnya.

“Yang dilarang itu menuduh satu hal dan hal itu tidak terjadi atau bukan fakta. Jadi misalnya saya nuduh Novanto itu pencuri uang sekian miliar, sekian triliun. Itu saya harus bisa membuktikan, kalau nggak bisa itu pencemaran nama baik dan jadi fitnah,” jelas Henri.

 

Para penyebar meme pun kini menjadi was-was, karena ikut terancam Pasal 27 Ayat 23 Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yang mengatur pendistribusian dokumen elektronik yang bermuatan penghinaan.

Kuasa hukum Setnov juga menambahkan, “Meskipun dia sekarang ada masalah hukum, kan tidak berarti beliau itu salah. Apalagi kalau dengan caranya menyebarkan foto-foto yang diedit sedemikian rupa, ini kan akhirnya memberikan pendidikan negatif pada masyarakat. Orang yang tidak tahu apa-apa bisa jadi ikut membenci.”

Nah, bagaimana menurut kalian warga net. Dengan adanya kasus ini, meme yang sudah menjadi salah satu bentuk hiburan pop culture zaman now dikhawatirkan akan berkurang drastis. Bagaimana sih menurut kalian meme yang wajar dengan meme yang sudah masuk ke penghinaan?

Bagaimana juga pendapat Kak Seto mengenai meme-meme yang selama ini beredar tentang dirinya? Apakah ia juga akan melaporkan para pembuat dan penyebar meme-meme yang menggunakan fotonya? Tunggu jawabannya di #CREATORofTHEWEEK POPCON Media berikutnya!

Sumber Foto: Bisnis IndonesiaLiputan6.Com, & Twitter