Jika mendengar nama Haryadhi, hal-hal yang pertama kali terngiang adalah komik strip tanggapan isu politik yaitu KOSTUM (komik strip untuk umum). Tidak hanya isu politik, KOSTUM baru-baru ini juga menyuarakan anti korupsi melalui hashtag #kostumkomikXkpk yang merupakan hasil kerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) & Pusat Edukasi Antikorupsi (Portal pembelajaran antikorupsi dari KPK).

Meski lebih sering dikenal melalui komik KOSTUM, Haryadhi nyatanya juga merilis berbagai komik loh seperti Setan Jalanan, RIXA, dan JITU, yang baru-baru ini dirilis dan menuai respon positif. Nah di **#CREATORofTHEWEEK **kali ini, kita akan mencari tahu bagaimana kisah di balik karya-karya Haryadhi selama ini? Tips selama membuat komik dan tentu saja bagaimana Sarjana Jurnalistik ini menanggapi isu-isu politik melalui KOSTUM secara cepat? Simak ulasannya berikut ini!

[POP] Sebelum bahas komik KOSTUM dan KPK, ceritain dong pengalaman menarik dalam menggarap komik RIXA, Setan Jalan, dan JITU!

Setan Jalanan dulu yah. Jadi saya dan Pepeng (Franki Indrasmoro) bisa ketemu karena kita sama-sama punya satu mutual friend namanya Odi. Nah, Pepeng menghubungi Odi karena lagi nyari ilustrator untuk komik Setan Jalanan-nya, dan Odi merekomendasikan saya ke Pepeng. Tantangan bikin Setan Jalanan tentu aja berat, karena ini pertama kalinya saya nyoba gambar dengan gaya yang realis, karena sebelumnya saya lebih terkenal di KOSTUM pake gaya ‘Cartoony’. Butuh proses pembelajaran otodidak yang cukup ‘painful’ tapi ternyata lama-lama bisa juga dan kelar sampe tiga jilid.

Karakter yang difavoritkan di Setan Jalanan, tentunya si Setan Jalanan-nya sih, soalnya saya yang desain karakternya, hahaha. Selain itu, emang karena Setan Jalanan itu unik, dia bisa menguasai segala medan dengan motor trail-nya, udah kayak Spider-Man yang bisa merayap tembok, tapi dia pake motor.

Kalo Rixa, bisa dibilang adalah tantangan terberat yang pernah saya alami. Terjadinya Rixa itu sederhana, jadi si Sunny Gho (CEO KOSMIK) secara random emang nawarin saya bikin komik untuk sosialisasi ke anak muda tentang LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Jadi saya bikin deh Rixa. Nah, saya kira kan dengan adanya LAPAN, tugas saya cuma mikirin narasi aja, karena saya nggak punya latar belakang pengetahuan tentang keantariksaan sama sekali, bahkan suka aja enggak hahaha.

Tapi ternyata karena satu dua hal, saya jadi harus belajar sendiri tentang keantariksaan, segala perkembangan teknologinya, sampe dunia aeronautika juga. Ditambah untuk kebutuhan cerita, saya sadar saya harus menguasai fisika juga, tapi untung saya berhasil ngajak kerjasama si Maximilian Fansyuri yang bisa bantu saya jadi konsultan dari segi matematika dan astrofisika.  Belum lagi dari segi pengerjaan, KOSMIK (penerbit Rixa) memacu saya untuk bisa nyetor 24 halaman (untuk season 1) dan 16 halaman (untuk season 2) per bulan. Saya bener-bener merasa kena ospek sih, hahaha. Tapi untungnya berkat ngerjain Rixa, skill saya jadi upgrade, saya jadi lebih cepet bikin cerita dan bikin gambar.

Kalo JITU, bisa dibilang ini proyek yang paling mewakili passion saya. dan bodohnya malah yang paling saya terlantarkan selama 3 tahun hahaha. Konsep JITU itu ada sebelum Setan Jalanan vol.2 & vol.3, serta Rixa (season 1 dan season 2). Semua berawal cuma dari saya ngeshare berita soal geng balap motor di facebook, tiba-tiba mas Yudha (co-owner Re:On comics) ngeliat itu dan langsung propose cerita yang jadi kerangka cerita JITU ke saya via whatsapp, lalu berlanjut jadi saling ngembangin konsep dasar ceritanya sambil makan siang bareng. Mas Yudha itu kayak nyumbangin plotpoint-plotpoint cerita, misalnya dia nyeletuk “karakternya ada bencong aja”, nah itu saya catet, dan saya yang mikirin gimana caranya menerapkan masukan dari mas Yudha itu ke dalam kronologis ceritanya biar natural, sementara saya sendiri juga bikin ‘Character Development’ dari setiap karakter-karakternya, dan nyelip-nyelipin karakter baru dan banyak plotpoint lain.

Kalau bicara tantangan, JITU itu proyek yang paling ‘saya banget’ sih secara genre. Jadi saya ngejalaninnya happy, nggak terlalu berat sampe dianggap tantangan. Mungkin ya tantangannya dari segi respon di masyarakat nanti, apakah mereka udah bisa menerima genre komik action Gore kayak gini? Hehehe. Tapi lumayan, sejauh ini, review yang saya terima dari JITU, kebanyakan positif dan pada suka banget.

Karakter di JITU yang paling saya suka… Rudra sih. Karena dia mewakili orang biasa yang dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit, seperti kita-kita pada umumnya hehe.

—Haryadhi dan KOSTUM—

[POP] Kalau komik profesional pertamanya apa nih?

Komik profesional itu maksudnya komik yang pertama kali dicetak penerbit gitu yah? Berarti komik  “Seratoes Ploes Aspirasi”. Itu sebenernya dulu kan saya udah bikin KOSTUM di facebook, terus ditawarin sama Koloni Gramedia untuk bikin versi cetaknya, tapi saya saat itu memutuskan bikin konsep baru aja sekalian tapi tetep pake brand KOSTUM. Nah, ‘Seratoes Ploes Aspirasi’ itu konsepnya ngumpulin 100 lebih aspirasi orang tentang Indonesia, lalu saya komikin jadi komik strip, dengan saya jadikan mereka sebagai tokoh utama di setiap strip-nya.

**[POP] Kapan awalnya terjun ke industri komik dan gimana ceritanya?**

Kalau secara hobi sih, emang seinget saya dari kecil udah pernah ngomik walaupun ngasal ceritanya dan nggak pernah ada yang tamat juga. Tapi kalau dibilang pertama kali terjun ke industri komik… ya mungkin dari pertama kali bikin KOSTUM kali yah di facebook. Itu tahun 2009, saya baru beli pen tablet, dan masih belum terbiasa cara makenya gimana, akhirnya saya niatin bikin komik strip yang rutin, lahirlah KOSTUM, terus dapet apresiasi dan dikenal orang-orang sebagai komikus deh.

[POP] KOSTUM jadi web komik paling dibaca saat ini. Kritis menanggapi isu-isu sosial, juga politik. karakternya juga sering menyerang pihak-pihak tertentu. Apa ngga takut?

KOSTUM itu, secara jiwa, sebenernya bukan soal ‘menyerang’ pihak-pihak tertentu. Tapi mempertanyakan logika pihak-pihak tertentu dalam kemasan yang satir. Kalo ditanya “apa nggak takut?”, saya juga nggak bisa bilang saya ini sok berani. Tapi saya percaya aja, asalkan muatan komik saya memang mengkritik secara sehat, bukan berisi hate speech dan pencemaran nama baik seseorang secara langsung, seharusnya komik saya ini nggak bermasalah.

[POP] Saat komikus lain berusaha menghindari politik, KOSTUM justu memainkannya. Apakah mas Haryadhi melihat politik ini sebetulnya tema yang seksi?

Kemunculan pertama KOSTUM itu di tahun 2009, dan saat itu lagi Pilpres 2009. Jadi memang dari awal, KOSTUM sudah membahas ke isu-isu politik.

Kalau dibilang politik itu tema yang seksi, ya mungkin aja yah. Tapi alasan saya ngangkat itu memang karena menurut saya layak diangkat untuk jadi perbincangan di masyarakat. Kebetulan aja saat ini rakyat kita lagi sangat bergairah dan aktif dalam mengutarakan pandangan politiknya.

[POP] Kalau dilihat KOSTUM juga berusaha seimbang, kadang menyentil pihak sini, kadang menyentil pihak sana. Nah, kalau boleh tahu, pihak mana nih yang paling banyak mendukung KOSTUM?

Hmm kalau dari komentar-komentar sih, pernah ada yang bilang saya ini ‘Cebong’ / ‘Ahoker’ / ‘Jokower’.  Tapi ada juga yang bilang saya ini ‘Pro koruptor’, cuma gara-gara sempet mengkritik Ahok.  Tapi kalau diadu banyak-banyakan, ya lebih banyak yang bilang saya ini ‘Cebong’ hahaha.

[POP] Sempat juga mengangkat isu Setnov, apa tidak takut dilaporkan oleh pengacaranya?

Saya nggak pernah bikin meme Setnov sih, kalaupun mengangkat isu seputar Setnov, saya juga tahu batasnya mengkritik pejabat pemerintah dengan semata meledek dan mencemarkan nama baik.

[POP] Bagaimana tipsnya untuk selalu update berita dan bisa langsung tereksekusi menjadi sebuah karya? Berapa lama waktu yang dibutuhkan dari satu isu, sampai jadi komik?

Tipsnya sering-sering ngelakuin aja, lama-lama terlatih untuk bisa menangkap esensi dari setiap kasus atau berita secara cepat dan menuangkannya dalam komik secara efektif. Lama waktu yang dibutuhkan buat saya untuk buat satu edisi KOSTUM itu, kira-kira 2 sampai 3 jam.

[POP] KOSTUM juga sudah memiliki pengiklan/endorser, apakah KOSTUM sudah memiliki tim AE (account executive) yang mengurus dan mencari iklan, atau Mas Har masih mengurusnya sendiri?

Kebetulan masih ngurus sendiri sih hehehe.

[POP] Boleh tahu rate iklannya berapa?

Tebak aja berapa. Yang jelas, saya itu kalo jalan-jalan ke luar negeri  minimal keluar duit 4M. Suka beli tas hermes. Karena saya suka kemewahan. 

[POP] Kemudian kerjasama dengan KPK, bagaimana awal ceritanya bisa ada kerjasama ini? Apa gara-gara komik Setnov?

Kurang tahu sih ini gara-gara komik Setnov apa bukan. Yang jelas emang ada orang KPK yang menghubungi duluan. Lalu seperti umumnya jika ingin mengerjakan proyek dari lembaga pemerintahan, harus melewati proses administrasi dan pitching yang lumayan ribet dalam waktu yang saat itu lumayan sempit. Alhamdulillah KOSTUM komik yang lolos deh, dengan bantuan secara administratif juga dari CV. Octopus Garden, penerbitnya buku komik-komiknya Mice yang kebetulan udah temenan, karena dulu kan saya juga pernah kerjasama bareng Mice di seri ‘Komik Jakarta’.

[POP] Komik KPK ini juga langsung keluar banyak, tidak 1-1, apa memang disengaja? Apa tidak takut pembaca jadi bosan karena terlalu sering?

Sebenernya pengennya emang jarang-jarang. Tapi karena satu-dua hal secara administrasi, dalam satu bulan ini saya diharapkan bisa posting dalam jumlah banyak. Tapi untungnya kemarin bisa saya selipin tema bebas diantara komik KPK-nya biar ada jeda hehehe.

[POP] Apakah komikus di Indonesia sudah bisa menjadi pekerjaan yang menjanjikan?

Udah sih, asal sabar dalam menjalani prosesnya. Kalian bisa sampai di titik di mana kalian bisa bekerjasama dengan penerbit-penerbit yang bisa mengembangkan potensi kalian atau menjadi brand ambassador dari produk-produk atau lembaga yang bergengsi.

[POP] Next-nya akan ada proyek komik apa lagi nih?

Sebenernya lagi males bikin judul baru lagi. Mau lanjutin dulu aja yang udah established, kayak JITU yang udah dapet respon positif dari para pembaca, dan udah nungguin banget kelanjutannya.

[POP] Ada tips buat para komikus web biar bisa sukses dapat banyak iklan dan endorser seperti karya-karyanya Mas Haryadhi?

  1. Bikin akun dan berkarya lewat media sosial (facebook, instagram, twitter)
  2. Jujur berkarya sesuai kesenengan kamu, nggak perlu ikut-ikutan mau jadi siapa. Temukan ciri khasmu aja. Misalnya kamu suka otomotif, nah bikin komik seputar itu. nanti kalau followermu besar, sponsor yang berdatangan pun akan sesuai dengan imej yang udah kamu buat. Kalau komikmu lekat dengan imej otomotif, misalnya akan datang sponsor sparepart, oli, ban, dan lain-lain.
  3. Konsisten terus.
  4. Coba bergabung dan berkenalan dengan komunitas para komikus komik strip, misalnya Komikin Ajah yang suka merepost komik strip kita, agar kita lebih dikenal dan follower kita bertambah.

[POP] Harapan untuk industri komik Indonesia?

Harapannya yang mau berkarir jadi komikus udah bisa fokus jadi komikus aja dan sejahtera dari situ, gitu aja.