Pada event perdana ANIMAKINI yang membahas “animasi terkini” yang diadakan oleh Seni Rupa IKJ (Institut Kesenian Jakarta) dan BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif), dua komikus handal yang melahirkan komik ‘Si Juki’ dan ‘Mice Cartoon’ (dulu: ‘Kartun Benny & Mice’) menampilkan karya-karya mereka yang kini sudah hadir dalam bentuk animasi alias gambar bergerak.

Kalau Si Juki sudah siap dengan ‘Si Juki The Movie’ yang akan tayang di bioskop mulai 28 Desember mendatang, ‘Mice Cartoon’ baru mulai merintis dengan dua episode yang durasinya kurang dari dua menit. Muhammad Misrad, sang kreator mengatakan dulu ia sering menolak para pemodal yang berminat merealisasikan komiknya menjadi gambar bergerak, sekarang ia baru menyesal karena ternyata membuat animasi itu membutuhkan biaya yang sangat besar.

“Dulu waktu masih Benny & Mice, banyak tawaran untuk menjadikannya animasi. Tapi sering kami tolak karena tidak sesuai dengan visualisasi yang kami inginkan. Sejak menjadi Mice Cartoon pun sebetulnya juga ada, tapi itu sudah tidak mungkin. Karena permintaannya harus Benny & Mice, bukan Mice saja,” ungkapnya.

Ia kemudian menjawab diplomatis kalau jarak dan kesibukan masing-masing yang sudah berkeluarga yang menyebabkan Benny & Mice tidak bisa bersatu lagi. Sekarang hanya dengan mengusung nama karakternya sendiri, ia harus merogoh kantong sendiri untuk bisa hadir dalam bentuk animasi.

‘Mice Cartoon’ versi animasi sebetulnya cukup lucu, bahkan lebih banyak mendapat applause dari teaser ‘Si Juki’. Karya dari Mas Misrad rupanya memang sangat diperhatikan betul visualisasinya, karena ia sudah terbiasa berkarya dengan visual diam yang dapat hidup dalam imajinasi pembaca, makanya ia tidak mau versi animasinya ini bergerak berlebihan sehingga mengacaukan imajinasi penonton yang sudah terbiasa dengan visualisasi karakter-karakter yang muncul di ‘Mice Cartoon’.

Misrad yang juga akrab dipanggil Mice ini berharap dapat mendapatkan pendanaan untuk melanjutkan proyek animasinya ini.

Sedangkan Faza Meonk sang kreator Si Juki pada kesempatan itu menjelaskan bahwa sebagai IP karakter, pemasukan terbesar ‘Si Juki’ tetap berasal dari buku dan endorser. “Sumber pemasukan Si Juki berasal dari B2C dan B2B. Kalau dari B2C yang terbesar berasal dari penjualan buku dan merchandise, sedangkan dari B2B bentuknya dari pengiklan yang ingin produknya dimunculkan dalam cerita Si Juki. Pendapatan dari licensing film ini juga termasuk besar,” terangnya.

Berbicara mengenai teaser, pada kesempatan itu juga hadir Aryanto Yuniawan, sutradara film animasi “Battle of Surabaya” yang sempat membuat buku ‘Langkah Jitu Membuat Trailer Seru’. Ia mengungkapkan trailer-trailer film aksi Hollywood seperti Star Wars dan Thor: Ragnarok yang belakangan ini cenderung miss-lead atau berbeda dengan versi tayangnya, bukan sesuatu yang salah. “Karena bagaimanapun trailer itu bagian dari media promosi agar orang-orang tertarik untuk pergi menonton. Kalau dianggap terlalu spoiler pun juga tidak apa. Biar penonton yang akhirnya menilai sendiri,” jelasnya.

Keseruan mengenai trend animasi Indonesia terkini masih akan berlanjut hingga hari Jumat besok, 9 November 2017. Bagi kamu yang belum sempat datang ke ANIMAKINI yang diadakan di Goethe-Institut Jakarta, besok masih ada “Master Class Sistem Produksi, Manajemen Kerja dan Kolaborasi Animasi” bersama Aditya Triantoro (Direktur Little Giant Studio), Pattrick Effendy (Direktur Visual Expert), dan Suhendra Wijaya (Head of Business Development Manager MNC Animasi).

Selain itu, di Animakini hari terakhir besok juga ada screening film-film animasi terbaik karya mahasiswa yang menjadi pemenang Asiagrap, dan ‘Kris Knight’ dari Viva Fantasia. Jangan ketinggalan ya!