Saat film “Cloverfield” tayang di 2008, sutradara sekaligus produser ternama J.J. Abrams tidak pernah memikirkan film monsternya ini akan sukses. Saat itu ia hanya berpikir kalau Amerika harus punya film sejenis Godzilla, tapi dengan suasana yang lebih brutal dan mencekam. Tapi dengan metode promosi yang unik, dimana teaser demi teaser di-release tanpa menyebutkan judul dan keterangan ini film tentang apa, film dengan gaya pengambilan gambar handycam dan budget “hanya” USD 25 juta ini terbukti sukses meraih pemasukan USD 171 juta.

Di tahun 2012, Bad Robot, rumah produksi milik Abrams dipercaya oleh Paramount Pictures untuk mengolah naskah “The Cellar”, sebuah film berbudget rendah karya Josh Campbell dan Matt Stuecken. Melihat konsep, genre, ketakutan, komedi, dan keanehan dari cerita itu yang memiliki kemiripan dengan konsep Cloverfield, Abrams menjadikannya bagian dari franchise Cloverfield, diberi judul “10 Cloverfield Lane” dan rilis di tahun 2016. Film yang dibintangi John Goodman dan Mary Elizabeth Winstead akhirnya sukses menjadi film dengan budget rendah berikutnya yang mendatangkan banyak keuntungan. Bayangkan, dari budget USD 15 juta, bisa memperoleh pemasukan USD 110 juta.

Selain naskah “The Cellar”, Paramount juga memiliki naskah film sci-fi**“God Particle”** yang dipercayakan pada Bad Robot. Film ini diproduksi di tahun 2016 dan direncanakan rilis di awal tahun 2017. Tapi Abrams beranggapan film ini terlalu berat kalau berdiri sendiri. Maka dibuatlah beberapa perubahan untuk mengaitkannya dengan Cloverfield.

Sayangnya, di saat yang sama Abrams sedang fokus dengan “Star Trek: Beyond”, proyek Cloverfield ini pun terbengkalai. Baik Abrams maupun Paramount sampai pada keputusan untuk mengesampingkannya, daripada dirilis tapi tidak maksimal, dan hanya mendapat review buruk.

Sampai akhirnya kejutan datang saat penyelenggaraan Super Bowl ke-52 pada 4 Februari 2018. Para pemeran “God Particle” dihubungi oleh Abrams kalau tidak lama lagi, film yang mereka kerjakan 2 tahun sebelumnya akan dirilis. Ternyata sebelumnya Abrams dan Paramout telah melakukan negosiasi dengan Netflix, sekitar delapan minggu, dan akhirnya Netflix bersedia membayar iklan dengan budget USD 5 juta agar teaser “The Cloverfield Paradox” bisa tayang saat jeda iklan Super Bowl, sebuah program olahraga yang paling banyak ditonton di Amerika. Penonton film yang sudah mengenal* franchise* ini pun langsung mengejar Paradox yang langsung tersedia setelah pertandingan usai.

Walaupun Netflix tidak secara terbuka menyebutkan berapa banyak pelanggannya yang menonton Paradox, tapi semua orang setuju kalau metode penjualan ini lebih menjanjikan daripada menayangkannya di bioskop. Netflix dikabarkan membeli film ini lebih dari USD 50 juta, lebih tinggi 5 juta dari budget pembuatan filmnya, yang mencapai USD 45.

Lantas apakah film ini sukses? Apakah fans menyukainya? Walaupun Rotten Tomatoes hanya memberikan rating 17%, tapi 786 ribu pengguna Netflix di Amerika menyaksikannya hari itu juga. Dan jumlahnya mencapai 5 juta orang hanya dalam minggu pertama. Lumayan kan?

Metode promosi kilat ini kemudian dilirik oleh studio-studio lain yang juga memiliki film-film yang beresiko. Walaupun kebanyakan mereka menilai “The Cloverfield Paradox” memiliki keuntungan karena merupakan bagian dari franchise yang sudah memiliki banyak penggemar. Jadi tetap beresiko tinggi kalau film itu adalah film yang benar-benar baru. Tetap dibutuhkan strategi marketing yang lebih panjang untuk menarik masa penonton yang lebih banyak.

Yang jelas, apa yang dilakukan Netflix ini sudah menjadi trend baru, sekaligus penyelamat, kalau tidak mau dibilang sebagai platform aleternatif dari para studio besar untuk menampilkan karya-karyanya. Seperti yang baru-baru ini diakui oleh CBS untuk “Star Trek: Discovery”, begitu juga dengan film “Annihilation” (juga dari Paramount) yang dibintangi Natalie Portman yang dianggap “terlalu pintar” hingga tidak cocok untuk tayang di bioskop di seluruh dunia, dan banyak serial baru lainnya yang akan segera hadir di Netflix.

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Selama provider telko besar masih memblokirnya, peluang Netflix untuk berkembang masih berat…